Kamis, 19 Maret 2015

CRICKET: MOMENTALITAS TIMNAS CRICKET INDONESIA

“Batu pecah  bukan karena dasyatnya tempaan terakhir, tapi merupakan akumulasi dari tempaan-tempaan sebelumnya”

Fernandes N. Wellarana
Sangat utopis bila pemain TIMNAS cricket Indonesia berharap untuk memenangkan setiap kejuaraan regional cricket negara-negara lautan pasifik (ICC-EAP CUP). Skill saya tempatkan pada poin terakhir terhadap sebuah kekalahan (khususn untuk Timnas Cricket Indonesia), karena skill selalu tercipta dari keseringan berlatih dan keseringan berlaga—bukan dalam konteks individu tetapi sebagai sebuah TIMNAS, Tim Nasional Cricket Indonesia.

Dari beberapa pengalaman mengikuti kejuaraan ICC-EAP Cup, para pemain TIMNAS CRICKET Indonesia akan di panggil untuk mengikuti traning camp dan waktunya dua bulan menjelang kejuaraan. Waktu yang relative singkat untuk membangun kesolidan tim, baik dari sisi kerja sama, kekompakan, fitness, dan skill. Soliditas selalu terbentuk dari kesamaan persepsi terhadap sesuatu. Juara misalanya sebagai target. Untuk  membangun persepsi yang sama tentang JUARA, merupakan hal yang luar biasa sulit bagi TIMNAS Cricket Indonesia.
Pluralitas pemain TIMNAS memang menjadi salah satu alasan yang cukup mendasar terhadap beragamnya perspektif JUARA. Orientasi menjadi bagian dari Timnas Cricket Indonesia pun berwarna warni. Belum lagi tete-bengek lain yang kerap mengekor para pamain—perlakukan semua pemain itu sama.  Semua ini membentuk pemain-pemain di Timans Cricket Indonesia menjadi begitu utopis, meikirkan kemenangan yang begitu muluk dan bila kalah pasti ada yang menjadi kambing hitam.  

Banyak bowling yang jelek, fielding yang tidak agresif, KPI’S tidak berlaku, top five battsman fall erlier, dan semuanya berjalan berlalu seolah-olah tanpa ada yang tidak beres. Semangat mengibarkan sang merah putih menjadi kian redup ketika tiap kali berlaga selalu dipecundangi. Perjalanan bertanding ke luar negeri pun tidak lebih dari perjalanan wisata menikmati tempat-tempat baru dan sekedar menghabiskan ‘uang negara.’


Tidak Belajar Dari Pengalaman
Selalu mendapat penghargaan yang baik terhadap pengembangan Cricket di Indonesia untuk Cricket Indonesia merupakan hal yang lumrah dan tidak lebih dari sebuah candu. Saya katakana sebagai candu karena dengan ini pengembangan cricket di Indonesia begitu masif dan mengalahkan negara-negara lain. Tapi bila hal ini ditematisasi, Indonesia sesungguhnya  tidak pernah juara dan tidak layak mendapat award terhadap pengembangan. Presetasi selalu mengedepankan data-data--bisa  saja hasil manipulasi. Bila di lihat dari kenyataan di lapangan, minat orang terhadap Cricket kembali meredup. Jumlah yang dahulunya puluhan ribu, saya jamin  sebagaian besarnya hilang—entah disadari atau tidak yang pasti kita selalu punya alasan-alasn klise untuk membela diri.

Sama halnya dengan TIMNAS CRICKET, sangat momental. Momentalitas dari sebuah tim tidak pernah membentuk sebuah kesolidan. Setiap pemain tetap pada persepsinya masing-masing terhadap sebuah TIMNAS, sehingga untuk menjadi sang juara tetap menunggu ‘bintang jatuh dari langit’ dan berharap sebuah keajaiban terjadi. Menjadi pemenang atau menjadi pecundang merupakan hal yang tidak ada bedanya.

Mungkinkah Cricket Indonesia berpegang teguh pada prinsip Yin dan Yang, menjaga keseimbangan? Di sisi lain Cricket Indonesia menerima Award dalam pengembangan dan di sisi lain babak belur kalah terus dalam kejuaraan ICC-EAP CUP, dengan demikian Cricket Indonesia ‘stay on Balance.’ Stay on balance atau justru mengalami stagnasi?

Sesungguhnya Cricket Indonesia dalam hal ini TIMNAS Cricket Indonesia, tidak pernah belajar dari pengalaman yang sudah-sudah. Seharusnya ada banyak hal yang dapat dijadikan pelajaran untuk pembelajaran demi perbaikan ethos permainan  pemain dalam TIMNAS cricket Indonesia. Tapi berhubung TIMNAS CRICKET INDONESIA adalah momental, maka tidak mengagetkan bila selalu jatuh pada kesalahan-kesalahan yang sama, tidak solid, mudah menyerah, tidak disiplin, tidak bugar, danpoor skill.

Bila demikian gamblangnnya persoalan yang terus menjadi kendala terbesar bagi TIMNAS CRICKET INDONESIA dalam memetik kemenangan dalam setiap kejuaraan, adakah langkah konkrit yang akan dibuat untuk mengantisipasi terhadap kejuaraan-kejuaraan ICC-EAP CUP berikutnya  atau kita akan tetap berkutat pada permasalahan-permasalahan yang sama? Dalam waktu dekat ICC EAP CUP akan diselenggarakan, dan kita berharap keajaiban akan terjadi.

VOTE KOMODO: SIAPA UNTUNG DAN SIAPA BUNTUNG?


Siapa yang untung dan siapa yang buntung dalam promosi Komodo sebagai "the new7 wonder"? Saya pribadi melihat ini sebagai sebuah kesia-siaan. Sama sekali tidak penting.

Dimilis tetangga saya membaca bahwa ada beberapa orang yang rela saling memaki karena vote or not for Komodo? Dari beberapa orang yang menggiatkan kembali promosi komodo ini adalah Politisi, pasca pengunduran komodo dari TN7W oleh mantan menteri Kebudpar, Jero Wacik.

Jusuf Kala, Anas Urbaningrum, Baskoro Yudhoyono cukup getol dengan hal ini. Sungguhkah mereka  menghendaki Komodo terkenal dan sebagai keajaiban dunia? Atau mereka-mereka ini mengadu keberuntungan Politik melalui nama besar sang Raksasa NTT, Komodo? Mari berpikir melampaui apa yg mereka katakan dan menguak apa yg mereka tidak katakan.  Pecaya atau tidak kepedulian mereka ini merupakan 'kosmetika politik' belaka. Tidak Tulus...!

Beberapa teman saya bilang begini; apa sih ruginya hanya satu rupiah utk vote komodo? Dan saya tanya meraka begini; Apa sih pentingnya percaya terhadap omong kosong para politisi Republik sialan ini? Satu miliar selalu berangkat dari satu rupiah. Dan bayangkan, bila semua orang Indonesia dan sebagian besar dunia vote komodo dengan satu rupaih dan kemudian dibatalkan secara sepihak oleh oknum yg tidak bertanggung jawab (mengacu kpd program N7W sebelumnya). Kerugian yg tidak kecil,  bukan...!!!???

Komodo itu sudah terkenal sejak dahulu-kala dan semua orang di NTT khusunya Mabar telah menyadari hal itu. Jadi, tidak penting banget mempopulerkan sesuatu yang sudah pada dirinya populer.

Menurut saya sekarang adalah, bagaimana meningkatkan pengawasan di TNK (Taman Nasional Komodo) karena pencurian, penjarahan di TNK sendiri masih menggelora. Pencurian terhadap Rusa di Komodo, Penyelundupan anak-anak komodo ketempat lain (yg tidak pernah diexpose media) dan pencurian hasil laut di TNK merupakan kejahatan internal di TNK. Pemerintah mengabaikan itu  karena otak kejahatan ini adalah pemerintah sendiri.

Saya pernah berjumpa dengan seorang warga Labuan Bajo bulan Juli silam dalam perjalanan pulang dari Manggarai, Flores. Dia menceriterakan bahwa di TNK itu ada banyak sarang Walet yang terus dicuri oleh petugas TNK tetapi menggunakan orang sipil dari sape, NTB, yang cukup lihai dalam melakoni hal tersebut. Oknum yg bercerita kepada saya adalah saudara dekat seorang petugas TNK dan saya kenal orang tersebut.

Argumentasi lain bahwa: "Jika komodo menjadi terkenal dan menjadi bagian dari N7W , maka NTT dan Labuan Bajo khususnya akan menjadi kota yang sangat ramai dan infrastrukturnya pasti akan segera dibenahi". BULSHIT...!!! Apakah memang orang Manggarai yang diuntungkan karena terkenalnya KOMODO? Atau orang manggarai akan segera tersisikan ketika KOMODO menjadi semakin terkenal?

Jakarta menjadi terkenal dan maju tetapi harus mengorbankan dan menyisihkan suku betawi dari akarnya. Labuan Bajo pun demikian akan menjadi maju dan terkenal tetapi harus siap tersingkir dari Manggarai Barat(MABAR) sendiri menjadi budak kaum Kapitalist Ibu kota.

Saya percaya, masayarakat Manggarai Barat pada umumnya, belum bisa menerima kemajuan yg telalu cepat meninggalkan cara berpikir agraris yg masih mereka anut. Inikah kemajuan yang akan kita anut? Menerlantarkan sesama saudara yang masih jauh tertinggal?

Akh, Komodo sebaiknya engkau musnah saja...!!!  Ketenaranmu telah membuat saudara-saudarku terlantar dan tercabut serta tercabik-cabik dari eksistensinya sebagai orang Manggarai-Jelata. Bila engkau (komodo)  mau, biarkan engkau tidak terkenal, karena dengan keberadaanmu sekarang sudah cukup merepotkan kami yang tertinggal dari berbagai kemajuan dunia. Apalagi jika engkau sudah lebih terkenal, pastikan bahwa kami akan diusir dari tanah leluhur kami. Kami akan tetap berbangga pada kota Labuan Bajo yang mungil dan bersahaja seperti sekarang, karena kami menginginginkan agar engkau ada dan kami pun tetap ada. Jadi, lupakanlah ketenaran yang mereka janjikan, karena semua itu hanya omong kosong dan kosmetika politik menuju tirani singga-sana kekuasaan. Akhir Nov 2011).

Fernandes Nato Wellarana

Senin, 09 Maret 2015

MANGGARAI BARAT DI PERSIMPANGAN KEKUASAAN


Masa kekuasaan Bupati Dulla tinggal menghitung hari untuk kelar. Jabatan ‘sakral’ tersebut akan segera diganti oleh rezim lain atau oleh Bupati Dulla sendiri yang besar kemungkinan akan kembali maju dalam bursa pencalonan bupati pada PILKADAL (baca: pemilihan kepala daerah langsung) Manggarai Barat mendatang.

Bupati Dulla yang telah menjabat kurang lebih 10 tahun sebagai wakil dan bupati Manggarai Barat tampaknya telah mengenal betul rincian kelebihan dan kekurangan serta potensi yang dapat dikembangkan secara optimal di Manggarai Barat. Alasan memahami betul tentang detail persoalan Manggarai Barat inilah yang membuat Gusti Dulla kembali ke dalam pusaran kekuasaan. Ia ingin kembali menjadi orang nomor satu di Manggarai Barat sehingga dapat menuntaskan program-program kerja yang masih menunggak selama sepuluh tahun masa kekuasaannya. Benarkah demikian…!!?

Pertanyaan inilah yang menggelayut dalam benak saya ketika mendengar bahwa Bupati Dulla ingin kembali maju dalam perhelatan politik, pesta demokrasi PILKADAL Manggarai Barat untuk periode mendatang. Benarkah beliau hendak menuntaskan pembangunan di Mabar yang masih terbengkalai setelah sepuluh tahun rezimnya? Atau hanya ingin melanggengkan kekuasaanya saja?

Di sini tentu kita wajib berhenti sejenak, melihat kembali pencapaian Manggarai Barat selama rezim Bupati Dulla satu dasawarasa terakhir. Apa perkembangan di Manggarai Barat yang paling nyata selama 10 tahun rezim kekuasaan Bupati Dulla? Apakah perkembangan-perkembangan tersebut layak dijadikan sebagai indikator kemajuan atau justru sebagai indikasi dekadensi pembangunan dan politik di Manggarai Barat? Tentu saja masih ada banyak lagi pertanyaan yang bisa kita ajukan untuk dikaji. Pertanyaan-pertanyaan tersebut tidak perlu diajukan kepada sang Bupati karena tuan penguasa selalu memiliki alibi sebagai pembenaran terhadap kegagalan-kegagalannya.

Lalu apakah rakyat perlu menitipkan pertanyaan-pertanyaan dan evaluasinya terhadap kinerja Bupati Dulla melalui perwakilannya, DPRD Manggarai Barat? Sudahlah, sudahi saja harapan kita tentang kinerja para dewan terhormat. Mereka hanyalah perwakilan bagi diri mereka sendiri, mereka hanyalah pendulang rupiah dari negara, penambang APBD. Mereka bisa saja menumpahkan seluruh tuduhan kegagalan pembangunan di Manggarai Barat kepada Bupati. Dewan Perwakilan Rakyat  Daerah bisa saja ‘cuci tangan’ dari berbagai kegagalan pembangunan di Manggarai Barat yang sebenarnya mereka punya andil dalam kegagalan pembangunan tersebut (banyak DPRD Mabar yang menjadi calo proyek). Di sini tentu kita bisa mengatakan bahwa antara DPRD dan Bupati Mabar itu adalah setali tiga uang, atau sebelas dua belas bahasa anak zaman sekarang.

Nah, ketika Bupati dan DPRD (hampir) tidak memiliki nilai lebih yang dapat diapresiasi oleh masyarakat, yang dikarenakan rendahnya mutu kerja mereka, lalu masih adakah harapan bahwa ke depannya Manggarai Barat dapat menjadi lebih baik? Apakah besok Manggarai Barat akan memiliki pemimpin yang mengerti akan apa yang harus dikerjakannya demi kemajuan daerah tersebut yang bergelimangan potensi sumber daya alam?  Tanggung jawab untuk memilih pemimpin yang kredibel dan berintegritas tinggi untuk masa depan Manggarai Barat yang lebih baik ada di tangan kita semua sebagai masyarakat. Sehingga kita semua diundang untuk tidak apatis dalam menentukan Bupati bagi Manggarai Barat untuk periode mendatang.

Dominasi Politikus ‘Wajah Lama’

Politik memang sering kali dimengerti sebagai seni melanggengkan kekuasaan dan hal inilah yang sedang dilakukan oleh para politikus ‘Wajah lama’ Manggarai Barat. Mereka kembali menebar pesona politk ‘rabun senja’, politik musiman dengan jarak pandang dekat. Janji-janji manis kembali mengalir deras dari mulut para kandidat dan horornya masyarakat sering kali terbawa suasana tanpa mampu mengambil jarak dari situasi tersebut.

Masyarakat pun lalu jatuh ke dalam situasi sulit, memilih yang satu dan menegasi yang lainnya, menyanjung yang satu dan menyumpah yang lainnya. Sedangkan mereka tidak pernah benar-benar mengerti siapa sejatinya kandidat yang mereka jagokan tersebut. Mungkin saja kandidat tersebut adalah penjarah uang APBD, bekas narapidana, mungkin saja partai politik yang mengusungnya beraliran fundamentalis-radikal, dan juga kemungkinan lainnya. Sebab mata masyarakat telah disilaukan oleh kosmetika politik yang menyamar seluruh ketidak becusan sang kandidat. Telinga masyarakat telah dibuai oleh manisnya rayuan dan janji-janji politik para politikus yang memiliki lidah lincah untuk berkelit.

 Dalam pergulatan untuk mencari Bupati berintegritas tinggi bagi Manggarai Barat untuk periode mendatang, masyarakat dihadapkan pada pilihan-pilihan yang tidak mengenakkan. Partai politik yang semestinya menjadi tempat bersemayam dan tumbuh suburnya kader pemimpin berkualitas dan berintegritas tinggi gagal total. Alhasil, partai politik menjadi sekedar merek dagang yang dapat dibeli oleh mereka yang memiliki uang. Pembelian terhadap partai politk inilah yang disinyalir sebagai cikal-bakal tindakan korupsi dikemudian hari.

Namun demikian, dalam kondisi seperti ini masyarakat diwajibkan untuk tetap waras, selalu terjaga dan tidak terkontaminasi oleh ‘gombal-gembel’ para kandidat. Kenali rekam jejak kandidat tersebut dengan baik. Jangan pula terbuai oleh ‘gula-gula’ sogokan para politisi ‘pendatang baru’ yang mencoba keberuntungan di Manggarai Barat. Masyarakat juga wajib terlibat secara aktif dalam politik untuk mengawal asa demokrasi yang sering kali dikebiri demi kepentingan penguasa (ruling class). Jangan pernah apatis dengan politk, jangan pula terpekur dalam syair klasik apatisme: ‘ah, siapa pun yang terpilih nantinya sama saja, toh saya akan tetap seperti ini,  Manggarai Barat juga akan tetap seperti ini’. Segera sudahi ketidak pedulian tersebut!  Mari, bersama-sama menyongsong wajah baru Manggarai Barat yang memesona dengan memilih pemimpin yang berintegritas dan berpihak pada kepentingan semua orang.

Memilih Bupati ‘Robinhood’

Menjawab undangan politik pesta demokrasi PILKADAL Mabar untuk memilih Bupati yang tepat bagi Kabupaten Manggarai Barat periode mendatang, masyarakat dihadapakan pada preferensi yang pelik. Banyak calon bupati yang tidak qualified untuk memimpin Manggarai Barat ke depannya. Qualified dalam hal ini tentu bila merujuk pada polis idal a-la Platon yang mengharuskan pemimpin negara (polis) itu filsuf-filsuf raja (philosophers king), bahkan bisa jadi Bupati mabar yang sekarang itu tidak termasuk ‘warga polis’ karena mutu kepemimpinan yang rendah.

Tetapi, tentu saja kita semua menyadari konsekuansi dari sebuah negara demokrasi dimana setiap warga negara  setara (equal), memiliki hak politik yang sama untuk memilih dan dipilih terlepas dari apa predikat Sosial yang kita miliki. Toh yang namanya pemimpin dan kepemimpinan itu juga dapat dibentuk dan dipelajari. Jadi, mungkin saja para calon Bupati yang dihadapkan kepada kita masyarakat Mabar saat ini sebagai pemimpin hasil pembelajaran dan pembentukan (baca: polesan media). Sehingga bila bila kelak terjadi hal-hal yang menyimpang dalam kepemimpinannya hal tersebut tidak akan mengagetkan kita karena kita sudah mengetahui dari mana dia ‘berasal’.

Untuk itu mari, kita mengakrabi para  kandidat, mengenali mereka dari dekat dan lebih dekat. Sebab tidak setiap orang memiliki keberanian dan kesediaan untuk menjadi pemimpin (baca: pelayan masyarakat). Mari, kita bangun komunkasi yang baik dengan mereka sehingga kita dapat mengetahui arah dan motivasi mereka mencalonkan diri sebagai pemimpin Kabupaten Manggarai Barat. Lalu kita menganalisa berbagai hal yang mereka katakan. Sekali lagi jangan sampai terbuai dengan ‘gula-gula’ politik yang mereka tawarkan. Harus menjadi masyarakat yang waras dan cerdas dalam memilih, selalu ‘terjaga’ untuk  memilih pemimpin yang tepat.

 Lalu siapakah pemipin yang tepat itu? Di sini saya coba menganalogikannya dengan salah satu tokoh film terkenal, Robinhood. Robinhood adalah seorang yang memerankan sebagai penjahat yang solider. Mencuri untuk kebaikan banyak orang dan tidak mencuri dari orang-orang kecil. Tentu kita semua tahu bahwa pada dirinya mencuri itu adalah sesuatu yang buruk. Tapi bila mencuri demi kebaikan banyak orang, maka orang-orang akan mengabaikan predikat pencuri dari sang pemimpin dan melihat pemimpin tersebut sebagai juru selamat. Kita juga bisa melihat tindakan mencuri tersebut sebagai sebuah pembangkangan terhadap ketidakadilan dari mereka yang berkuasa dan menjarah harta dan keuasaan mereka untuk kebaikan banyak orang (di sini saya tidak berpretensi unutk mengidealisir pencurian dan pembangkangan).

Dalam memilih bupati Manggarai Barat pada periode mendatang, kita dihadapkan pada pilihan-pilihan pelik sebab hampir pasti tidak ada calon yang benar-benar ideal untuk jadi Bupati. Untuk itu kita harus segera mengetahui siapa calon pemimpin yang akan kita pilih. Silakan memilih yang kemungkinan melakukan kecurangan (untuk memperkaya diri) setelah menjabat sebagai Bupati kecil. Rekam jejaknya akan membantu kita untuk mengetahui seperti apa komitmen orang tersebut dalam kepemimpinannya dan pilihlah ‘Robinhood’ sebagai Bupati.

Memilih ‘Robinhood’ dalam hal ini tentu sebagai sebuah jalan terbaik untuk memilih yang tepat di antara yang tidak layak. Minimal Bupati yang akan kita pilih memiliki keberpihakannya terhadap kepentingan dan hajat hidup orang banyak di MABAR, seperti pembangunan jalan, Rumah Sakit, air bersih, sarana pendidikan yang memadai, infrastruksur pertanian yang baik dan semuanya itu mengerucut pada penataan pembangunan kepariwisataan yang berkelanjutan. Bila Bupati terpilih kelak mampu menjawab kebutuhan masyarakat Manggarai Barat maka hampir pasti seluruh ‘dosa kekuasaannya’ akan diampuni masyarakat. Selamat menjalani lamentasi politik untuk kita semua. Selamat menjelang pesta demokrasi PILKADAL Manggarai Barat. Semoga masyarakat dapat memilih Bupati yang tepat untuk kebaikan bagi semua orang di Manggarai Barat.


Fernandes Nato Wellarana